Niaspedia

Perpaduan Antara Kearifan Lokal dan Nilai-nilai Arsitektur Bangunan Rumah Adat Tradisional Tumori di Gunungsitoli Barat

Niaspedia.com – Rasa hidup di desa dengan suguhan pemandangan alam yang mengagumkan dan kebiasaan masyarakat setempat dalam menjalani proses kehidupan setiap hari begitu menyenangkan. Apalagi jauh dari kehidupan kota yang penuh dengan kemacetan dan polusi udara.

Ada baiknya terkadang menikmati suasana desa yang masih tenang dan sekaligus belajar tentang nilai-nilai budaya dan arsitektur bagunan rumah adat tradisional. Yang kelak mungkin bisa menjadi inspirasi dalam membangun rumah impian dikemudian hari.

Arsitektur-Bangunan-Rumah-Adat-Tradisional-Tumori2

Menilik Kearifan Lokal dan Nilai-nilai Arsitektur Bangunan Rumah Adat Tradisional Tumori di Gunungsitoli Barat

Kali ini Niaspedia akan merekomendasikan sebuah desa wisata yang berada di Pulau Nias, tepatnya di desa wisata Tumori. Sebuah desa yang masih alami dan asri  di wilayah  Kecamatan Gunungsitoli Barat, bagian barat Kota Gunungsitoli.

Bagi wisatawan yang pernah travelling tahu dong  keadaan  desa wisata yang satu ini.

Dari tahun ke tahun ke tahun pasti ada saja para mahasiswa jurusan arsiktektur atau ilmu budaya yang mampir ke desa ini untuk mempelajari struktur dan kerangka rumah adat tradisional Nias dan budaya masyarakat Nias.

Dari dulu desa wisata Tumori terkenal dengan kekayaan budaya melalui budaya tutur, percakapaan adat (Huhuo Hada) dan nilai-nilai arsitektur rumah adat tradisional Nias bagian utara.

Travelling ke sebuah desa wisata merupakan sebuah kesenangan sendiri, belajar tentang budaya lokal dan suasana yang masih asri keuntungan yang travellers bisa nikmati saat berada di desa wisata

Menikmati keindahan lingkungan dan suasana desa wisata Tumori sangat cocok untuk travelling pada pagi hari. Destinasi wisata yang satu ini  lumayan dekat dengan pusat kota Gunungsitoli.

Bagi travelers yang mengendarai kendaraan roda dari objek wisata Taman Ya’ahowu ke desa wisata Tumori bisa ditempuh selama 20 menit atau sekitar 25 km dari Bandar udara Binaka.

Baca Juga : Suka Hunting Foto-Foto Ciamik? Destinasi Wisata Kamadu Beach Recommended nih !

Berkunjung ke Desa Wisata Tumori, Gunungsitoli Barat

Sebelum sampai di desa wisata Tumori yang masih asri dan tenang ini, para travelers akan melewati sebuah gapura yang lumayan  besar dengan sebuah tulisan “SELAMAT DATANG di DESA WISATA RUMAH ADAT NIAS”.  

Secara perlahan-lahan setelah melewati gapura,  satu persatu rumah adat tradisional Nias mulai kelihatan dengan berbagai ukuran dan warna.

Untuk menikmati dan mempelajari arsitektur rumah-rumah adat tradisional yang ada di desa wisata Tumori, ada baiknya  para travelers yang berkunjung ke desa wisata Tumori untuk memarkir kendaraa roda dua atau roda empat di sekitar rumah adat tradisional Nias yang pertama tak jauh dari gapura selamat datang.

Bagi para travelers yang berasal dari luar Pulau Nias yang berkunjung ke Pulau Nias untuk menikmati dan mempelajari arsitektur rumah adat tradisional Nias yang ada di desa Bawomataluo, Nias Selatan dan desa Tumori, Kota Gunungsitoli.

Tahu dong perbedaan rumah adat tradisional Nias di dua wilayah yang berbeda ini. Secara umum perbedaan besar antara kedua rumah adat tradisional Nias ini berdasarkan wilayahnya adalah bentuk atap.

Pada umumnya  rumah adat tradisional Nias yang berada di bagian selatan atap rumah adat tradisional berbentuk segitiga.

Sedangkan, rumah adat tradisional Nias yang berada di Nias bagian utara, yang salah satunya berada di desa wisata Tumori berbentuk oval.

Bentuk Arsitektur dan Proses Pembuatan Rumah Adat Tradisional Nias yang ada di desa wisata Tumori memakan biaya besar dan proses pembuatan yang cukup lama

Arsitektur-Bangunan-Rumah-Adat-Tradisional-Tumori-di-Gunungsitoli-Barat

Pada umumnya rumah adat tradisional Nias yang berada di desa wisata Tumori berbentuk rumah panggung dan mempunyai atap berbentuk  oval.

Pada masa lalu proses pembuatan rumah adat tradisional Nias dilakukan secara bergotong royong bersama masyarakat. Mulai dari mengambil pohon yang dijadikan sebagai pondasi rumah sampai dengan mendirikan rumah adat tradisional semua dilakukan secara bergotong royong.

Dalam proses pembuatan rumah adat tradisional Nias yang pertama dilakukan adalah bangunan awal ditumpu dengan kayu gelondongan yang disusun berdiri mengelilingi rumah, kemudian untuk menahan beban rumah bagian bawah rumah disusun dengan kayu yang kuat atau dalam bah.

Nias kayu tersebut Manawa (Sejenis kayu besi) secara silang beraturan.

Bagian lantai rumah terbuat dari papan yang berlantai dua dan mempunyai perbedaan tingkat satu sama lain. Sedangkan atap rumah berasal dari daun rumbia.

Seiring waktu dengan mulai berkurangnya pohon sagu dan pembuat atap dari daun rumbia yang semakin berkurang membuat harga daun rumbia yang sebagai bahan utama pembuatan atap rumah adat tradisional semakin mahal.

Beberapa pemilik rumah adat tradisional Nias memilih menggunakan seng aluminum sebagai atap rumah adat tradisional. Harga yang terjangkau dan tahan selama 10-15 tahun membuat para pemilik rumah adat tradisional memilih memakai seng.

Sedangkan dengan menggunakan atap rumbia harus diganti 2-3 tahun dengan biaya yang lumayan tinggi. Itu merupakan alas an utama masyarakat pemilik rumah adat tradisional memakai seng aluminum, walaupun keasiliannya sedikit berkurang.

Rumah Tradisional Tumori yang Tahan Gempa

Salah satu yang unik dalam proses pembuatan rumah adat tradisional Nias pada masa lalu adalah dalam proses pembuatan dari pondasi rumah adat  sampai pembuatan kerangka atap tidak menggunakan paku sama sekali. Salah satu cara untuk membuat pondasi rumah adat adalah dengan cara dipahat dan saling disambung secara silang.

Teknik pembuatan rumah adat tradisional ini sangat efisien dan tahan akan goncangan. Hal ini terbukti pada saat gempa bumi 8,7 S.R (2005)  menggoncang Pulau Nias sangat jarang rumah adat tradisional Nias yang rubuh total.

Salah satu alasannya karena rumah adat tradisional saat terjadi gempa elastis terhadap goncangan karena dalam proses pembuatannya saling dieratkan satu sama lain dan kayu-kayu dibagian pondasi saling terhubung satu sama lain.

Sayangnya seiring waktu rumah adat tradisional di desa Tumori seiring waktu sudah mulai mengalami perubahan dari yang aslinya.

Ada beberapa kurang terawat karena biaya perawatan yang terlalu mahal, kemudian dibiarkan begitu saja dan beberapa ada tak alami lagi seperti beberapa bagian dicat atau atap yang sebenarnya dengan menggunakan daun rumbia digantikan dengan seng aluminium.

Baca Juga : Putri Pariwisata Nias Ungkap Peluang Dapat Cuan di Nias Barat, Tertarik?

Beberapa bagian dalam Rumah Adat Tradisional yang Unik

Bagian rumah adat tradisional Nias bagian dalam bisa dikatakan unik. Saat travelers memasuki bagian dalam rumah adat tradisional Nias bagian utara terlebih dahulu melewati sebuah tangga yang mempunyai anak tangga berjumlah sekitar 3-4 anak tangga.

Lalu, bagian dalam rumah terdapat lantai yang mempunyai 2 tingkat yang mempunyai ukuran berbeda satu sama lain. Perbedaan kedua lantai  sekitar 10 cm. \

Untuk lantai yang lebih tinggi, ketika ada sebuah pertemuan untuk tempat duduk bagi pria, sedangkan rendah untuk para wanita.

Keunikan lain yang para travelers bisa nikmati saat berada dalam rumah adat adalah rumah adat biasanya tidak terdapat satu atau dua buah jendela. Model jendela dalam rumah adat  berjerajak.

Tujuan dibuat model jendela seperti ini adalah agar penghuni yang ada di dalam rumah dapat melihat dan mengamati orang yang sedang berada di halaman depan rumah.

Tak jarang pada masa dahulu, rumah adat tradisional nias tidak mempunyai kamar. 1 Keluarga istirahat di dalam bagian rumah utama. Segala aktivitas tidur, menerima tamu dilakukan di dalam ruangan tersebut. Tapi, seiring waktu bentuk dalam rumah adat tradisional Nias mulai ada inovasi di bagian dalam rumah adat terdapat sebuah kamar.

Kamar Mandi dan dapur terpisah dari bagian utama rumah adat. Tak jarang bagian atap rumah adat tradisional dibuat semacam jendela yang mana bagian atas dibuat sedikit persegi panjang.

Setiap pagi jendela tersebut dibuka dengan sebuah balok yang didorong ke atas.

Lingkungan desa Wisata Tumori yang asri dan masyarakat desa ramah kepada setiap pengunjung yang datang ke desa

Rumah-Adat-Tradisional-Tumori-di-Gunungsitoli-Barat

Saat berjalan kaki menikmati keindahan desa wisata Tumori sambil mempelajari arsitektur rumah adat tradisional Nias, para travelers saat berpapasan dengan masyarakat desa Tumori. Masyarakat desa sangat ramah, terkadang saat mereka berpapasan dengan pengunjung tak lupa mengucapkan kata Ya’ahowu yang mengadung kata berkat.

Di beberapa halaman depan rumah adat tradisional nias terdapat batu menhir atau gowe, yaitu batu-batu besar yang dulunya dianggap keramat atau pertanda pada masa dahulu keluarga yang memiliki rumah adat tradisional Nias yang di depan rumah terdapat menhir atau gowe pernah mengadakan pesta besar-besaran atau Owasa.

Untuk mendapat sebuah gelar kebangsawanan. Pada umumnya batu menhir di Nias ada 2 jenis; ada yang dipahat menyerupai orang dan tanpa dipahat, biasanya menhir yang dipahat bisa dilihat di Nias bagian Selatan, sementara di Nias bagian utara yang salah satunya di di desa wisata Tumori, sama sekali tidak dipahat.

Bagaimana setelah membaca artikel Niaspedia tentang desa wisata Tumori ingin travelling  ke desa wisata ini. Atau masih ragu bagaimana cara bisa sampai ke desa wisata Tumori. Bisa mulai sekarang kamu sering-sering mengunjungi website Niaspedia.com.  

Semua informasi tentang destinasi wisata, transportasi atau pengginapan di Pulau Nias yang ada di Nias bisa kamu dapatkan di website Niaspedia, www.niaspedia.com.  

Baca Juga : Kasus Covid-19 Turun, Traveling Jelajahi Pulau Nias Bisa Jadi Pilihan

Penulis : Febriwan Harefa/Niaspedia

Tinggalkan Balasan

 

 / 

Masuk

Mengirim Pesan

Favorit saya